Dusta


"Apapun alasanmu Ren, aku tidak pernah ingin bertemu lagi dengan kata pisah."

"Tapi aku harus pergi Aila"

"Kau angkuh"

"Aku minta maaf"

"Bodoh" laki-laki itu tak menatap, terkatup dalam angannya yang sudah bulat ingin pergi. Sedangkan Aila masih kokoh ingin mempertahankan.

"Dan benar memang, laki-laki hanya berjuang di awal, sedangkan perempuan mempertahankan mati-matian"

"Kau tidak boleh sepakat dengan pendapat itu Aila"

"Kenyataannya aku juga mengalami bukan? Kau seperti ini sekarang"

"Tapi aku punya alasan"

"Dan aku lebih butuh penjelasan Rendi" wajah Aila memerah menahan amarah, sedih dan kecewa yang mendalam.

"Kau tahu tidak? Pisah bukan tidak akan di alami siapapun. Hanya saja ada cara lebih baik untuk bisa lebih mudah menerima" Rendi menatap penuh tanya, Aila menatap langit, mencoba menahan air matanya untuk tidak menetes.

"Pertama, jangan jadi laki-laki pengecut yang pergi dengan cara menghilang. Kedua, jangan jadi laki-laki pecundang yang pergi tanpa ingin memberikan penjelasan, sekalipun alasannya adalah bosan. Ketiga, jangan jadi laki-laki sampah, yang di minta penjelasan pun tak bisa untuk mengungkapkan"

"Jangan terlalu sarkas"

"Kamu saja yang terlalu ingin mencari jalan aman"

"Ren, kau tahu semua pengalaman pahit tentangku. Lalu kenapa kau ingin berakhir dengan cara pahit juga? Setidaknya, meski berakhir, aku masih bisa mikir baik tentang mu"

"Berat untuk mengungkapkan"

"Kenapa? Tak di restui? Kamu di jodohkan? Atau apa?"

"Aku tidak ingin menyakiti mu karena alasan ini"

"Persetan, jangan memuluskan alasan dengan bilang tidak ingin menyakiti"

"Tidak bisakah kau berpikir baik?"

"Tidak bisakah kau mengungkapkan seadanya dibandingkan bersembunyi dibelakang kata; tidak ingin menyakiti?"

"Aku punya perempuan lain selain dirimu" kata hilang seketika, tubuh lemas dan terurai begitu saja. Kalut dan semua perjuangan selama ini hanya nyanyian sunyi saja.

"Oh, baiklah. Silahkan pergi. Jangan minta aku berteman atau menganggap saudara, karena yang terluka tidak semudah itu untuk menerima segalanya" Rendi menunduk kelam, Aila dengan penuh emosi pergi meninggalkan. Merasa sangat rapi di bodohi oleh laki-laki yang sudah dianggap malaikat sejauh ini.

@@@

Langit memudar, senja tak menyapa sore kali ini, Aila menatap langit dingin. Cerita seminggu lalu saat pisah membuat hatinya begitu sakit hadir dalam ingat. Berganti cerita manis saat bersama, lalu beralih pada perjuangannya saat Pertama kali berusaha dengan utuh menaklukkan hati Aila.

Perjalanan waktu Aila luluh, lalu dengan penuh percaya membuka hatinya. Menjalani cerita kasih dengan utuh, luka-luka dahulu mulai runtuh perlahan. Rendi selalu tahu cara membuat Aila bahagia dan nyaman berada didekat nya. Cerita manis itu hadir membuat sore Aila semakin merana, dengan segera iya kibas tak ingin terlalu kelam pada luka.

Tatapnya berhenti, sosok dengan postur tubuh tinggi tegap itu sangat iya kenal.

"Aila aku minta maaf, aku menyesal" Aila tak menatap, ada rasa iba namun benci lebih kuat merong-rong hatinya.

"Izinkan aku memperbaiki semuanya" pintanya memohon, sedangkan Aila tak kunjung menatap laki-laki itu.

"Aku menyesal Aila, dia pergi dengan laki-laki lain. Aku sakit banget, bahkan frustasi. Dan dari situ aku berpikir bagaimana kamu waktu itu saat aku memilih pergi karena perempuan lain" laki-laki itu tampak menghela nafas sejenak lalu melanjutkan kata-katanya.

"Izinkan aku kembali, aku ingin memperbaik semuanya"

"Oh" jawab Aila ketus, menatap sejenak pada laki-laki itu lalu menatap langit fokus.

"Pintu hatiku rusak, jadi gak bisa buka pintu. So, silahkan pergi. Aku muak melihat wajahmu" kata ini bukan murni tumbuh dari hatinya, ada rasa bahagia saat laki-laki itu mengucapkan kata ingin kembali, kembali untuk mengisi lagi hatinya yang sempat dibuat kosong. Namun iya sadar, laki-laki itu tidak utuh untuk kembali, melainkan karena ada luka dan mencari obat tercepat yang bisa menghapus lukanya. Dan Aila tak ingin iya hanya menjadi tempat pelarian dari laki-laki yang sudah dengan tega menanam luka padanya.

Rendi masih diam, berharap perempuan itu luluh, bisa melupakan segala kejahatannya dan membuka hati lagi padanya. Namun Aila tak bergeming, keputusannya menyuruh laki-laki itu pergi sudah bulat. Biarlah sendiri terlebih dahulu, tidak ada yang mengisi atau sekadar basa-basi dalam hidupnya. Ia hanya ingin tenang, hingga pada kesempatan lain, seseorang dengan manis akan membuat hatinya luluh dan mengalun cerita rasa tanpa lagi mengenal dusta.

Rendi yang melihat tidak ada respon dari Aila, dengan pelan mundur dari hadapannya, pasrah pada apa yang sudah diminta Aila. Dan pergi adalah cara yang tepat untuk menebus segala salah yang sudah dia bangun dengan sempurna.

“Maafkan aku Aila, terlalu bodoh diri ini sudah membuat luka perempuan sebaik dirimu” ucapnya parau sembari menenteng keputus asaan dan sesal akan keegoisan yang sudah membuatnya kehilangan perempuan yang dengan tulus menyayanginya. Namun yang terjadi hanya tinggal sesal, perempuan itu sudah tidak ingin mengalun cerita asmara lagi dengannya.


Ruqy El Qurdy

 

Show comments

Belum ada Komentar untuk "Dusta"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Cerita Rasa

"Yang selalu berusaha, akhirnya akan dipertemukan dengan keberhasilan, meski kerap kali mengalami kegagalan"