Mengingat Kepergian Ayah


 Malam dengan pekatnya, aku dihantam mundur pada cerita lalu. Saat derai air mata mengisi petarangan rumah. Ibu yang tak bisa menahan tangis dan emosinya untuk tumpah sebegitu histerisnya. Saudara yang sesenggukan berusaha menguatkan diri sendiri. Dan aku yang tak mengerti, melihat semua orang menangis justru aku ikut di dalamnya. Adik yang masih kecil berada dalam gendongan paman pun aku rasa dia lebih tak mengerti.

Lambat laun aku Mengerti sedikit demi sedikit, bahwa malam itu aku tengah kehilangan. Yach, sosok ayah. Sosok yang selama ini menemani dan berjuang menghidupi keluarga ku. Lalu pantas, ibu begitu terluka dan bersedih. Aku menciumi kaki ayah yang sudah putih pucat dan mendingin. Menangis pelan. Yang aku mengerti hanya tentang kepergian untuk selamanya.

Aku tak mengerti banyak, hanya saja dari semua tangis yang tumpah. Bahwa tangis inilah mengatakan keluarga ku tengah berduka begitu dalam. Yang namanya kehilangan selamanya, aku tak akan lagi mencium tangan ayah lagi. Aku tak akan mendengar sapa dan sikap harmonis ayah. Dan benar, keluarga kehilangan sosok kuat dan menjadi penyemangat kami.

Aku lihat ibu tak bisa mengontrol sedihnya. Kehilangan benar-benar membuatnya terluka. Tak ada sandar dan cerita bersama. Bebannya akan dia pikul sendirian. 7 anak yang masih dalam pendidikan semua. 

Tangis yang pecah, sosok ayah yang terbaring kaku. Dan ibu yang sedang berduka kehilangan pasangannya. Lalu aku yang tak begitu utuh mengerti, hanya berharap air mata ibu segera bisa diobati. Bisa lebih kuat menghadapi cerita hidup kedepan tanpa ayah lagi.

Lalu kali ini ayah, maaf. Maaf akan sosok aku yang belum bisa membahagiakan ibu. Menjadi teman cerita yang pas sebagai mana ayah dulu. 


Show comments

Belum ada Komentar untuk "Mengingat Kepergian Ayah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Cerita Rasa

"Yang selalu berusaha, akhirnya akan dipertemukan dengan keberhasilan, meski kerap kali mengalami kegagalan"