Urgensi Sastra Interdisipliner
NAMA : MOHAMMAD RIFKI
Bisa dikatakan bahwa karya sastra merupakan satu disiplin ilmu yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Secara garis besar karya sastra menyangkut beberapa persoalan yang berkaitan dengan fenomena kehidupan manusia pada umumnya, diantaranya adalah; (a) persoalan manusia dengan dirinya sendiri, (b) hubungan manusia dengan sesama dalam ruang lingkup sosial dan lingkungan alam, dan (c) hubungan manusia dengan Tuhannya (Nurgiyantoro, 1998. 323). Maka dari itu banyak aspek yang bisa dicakup oleh karya sastra, misalnya kesedihan, marah, gelisah, kecewa, protes, heran, pedapat, pikiran, berkenaan dengan sosial, alam dan sejenisnya, dengan demikan karya sastra hampir identik dengan walau tidak persis sama dengan disiplin ilmu lain, seperti laporan penelitian Antrpologi, Psikologi, Sejarah, Sosiologi dan berita koran, majalah ataupun lainnya. Kenapa karya sastra bisa dikatakan hampir identik dengan disiplin ilmu lain, seperti yang sudah dikatakan di awal, sebab karya sastra dan non sastra tersebut adalah disiplin ilmu yang berbicara tentang manusia, kehidupan sosial, peristiwa yang dialami sehari-hari, lingkungan dan lain sebagainya. Hal yang membedakan adalah pernyatan dan asumsi pembaca terhadap jenis tulisan tersebut.
Pendekatan terhadap suatu disiplin ilmu dapat dilihat melalui dua bentuk yaitu monodisipliner dan interdisipliner. Pendekatan yang dilakukan dengan satu sudut pandang disebut dengan monodisipiner. Pendekatan dengan lebih dari satu sudut pandang atau banyak ilmu lazim dikatakan dengan pendekatan interdisipliner (Sudikan,2015, 3). Pemecahan suatu masalah, rasanya akan tersasa sulit cepat terselesaikan jika hanya dikaji menggunakan satu sudut pandang atau satu disiplin ilmu saja karena satu masalah tidak hanya berkaitan dengan satu disiplin ilmu itu saja akan tetapi pasti ada hubungannya dengan ilmu lainnya. Maka dari itu sangat diperlukan adanya pemecahan masalah dengan solusi dari berbagai sudut pandang menggunakan disiplin ilmu interdisipliner yang kajiannya menyangkut beberapa bidang ilmu.
Pembahasan karya sastra dengan perspektif monodisipliner ini tentunya tidak lepas dari masalah dan kesulitan tentunya serta bisa dibilang dapat merugikan karya sastra itu sendiri. Karya sastra dengan perspektif monodisipliner hanya fokus melakukan kajian dengan satu sudut pandang ilmu saja dan justru hanya mengarah kepada persoalan tentang bagiamana meningkatkan keterampilan berbahasa, memeperbanyak kosa kata, mengembangkan kosa kata atau paling luas mengkaji tentang tema kemanusiaan yang dianggap universal, akibatnya adalah jelas kepada pemangku karya sastra itu sendiri, menjadikan karya sastra asing dari disiplin ilmu lainnya, terjadinya reduksi makna, mengakibatkan peran sastra yang semakin tidak terlalu intens serta menyesatkan cara pandang penganut sastra terhadap realitas.
Menurut Jacobs, yang mendefinisikan pembelajaran interdisipliner sebagai “ pendekatan kurikula yang menerapkan metodologi dari lebih satu disiplin ilmu untuk mengkaji tema, isu, permasalahan dan topik sentral (Janarto, 2010, 525). Hal ini senada dengan definisi yang diungkapkan oleh Sudikan (2015) bahwa pendekatan interdisipliner adalah disiplin ilmu yang pendekatannya menggunakan lebih dari satu sudut pandang ilmu yang serumpun dan relevan secara terpadu. Pendekatan karya sastra dengan cara pandang yang tidak hanya dari satu sudut pandang ilmu atau yang lumrah disebut sastra interdisipliner jelas akan lebih terasa manfaat dan dampaknya. Pemangku sastra yang menggunakan perspektif itu dituntut untuk tidak hanya berkutat dalam satu sudut pandang ilmu saja, namun secara lebih luas juga harus bisa mengkaji hubungannya dengan sudut pandang disiplin ilmu lain. Tentunya dengan kajian perspektif sastra interdisiplin ini akan lebih memberikan dampak yang positif dan signifikan bagi pemangku karya sastra itu khususunya dan manfaat bagi pemangku disiplin ilmu lainnya.
Mengutip artikel dari Wibowo, bahwa ada beberapa keuntungan yang bisa didapat dari kajian sastra interdisiplin ini; pertama, studi sastra tidak merasa asing lagi dari studi kamanusiaan lainnya yang bersifat praktis. Kedua, posisi karya sastra akan setara dengan disiplin ilmu lainnya, seperti Antropologi, Sosiologi, Sejarah dan sebagainya, apabila dikaji melalui studi-studi tentang motif-motif atau pola yang ada dalam karya sastra. Ketiga, ketika tersentuh sastra, manusia akan memiliki cara melihat permasalahan hidup yang lebih kongkret, karena karya sastra dapat memberikan pemahaman tentang potret kehidupan yang dapat dilihat dari sudut pandang lain, bergantung pada disiplin ilmu yang berkaitan.
Keempat, studi sastra interdisipliner ini akan memberikan banyak kekayaaan pengetahuan kepada para pakar disiplin lain tentang manusia yang meliputi keinginan-keinginannya, normalitas dan abnormalitasnya, kekecewaan dan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan. Kelima, secara diakronis, masyarakat akan mengubah pandangannya bahwa studi tentang sastra yang semula hanya bisa dilakukan oleh pakar sastra, pakar dari disiplin lain dan bahkan orang biasa akan mampu melakukannya(Arif, Rokhman, 2003, 4-6).
Kita dapat melihat bahwa tidak ada disiplin ilmu yang lebih unggul atau lebih menjadi prioritas dari pada yang lain dengan perspektif interdisipliner ini, karena setiap disiplin ilmu memiliki cara yang khas untuk menyelesaikan suatu masalah yang tidak bisa diatasi oleh disiplin lain. Setiap disiplin ilmu pasti memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak dimiliki oleh disiplin ilmu lainnya. Cara pandang interdisipliner mampu mengatasi masalah yang memiliki banyak sisi dan sangat diperlukan dalam kasus-kasus tertentu karena mencakup terhadap hal-hal atau fenomena yang kongkrit dan menyeluruh.
Mengkaji karya sastra dengan cara pandang interdisipliner memberikan kemungkinan bagi kita untuk mengetahui banyak fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia, seperti yang banyak tertulis dalam karya sastra, seperti contoh novel Panah Asmara Srikandi karya HAES, Novel ini merupakan tokoh yang diambil dari cerita indonesia, khususnya dari budaya Jawa. Panah Asmara Srikandi karya H A E S adalah novel yang ditulis dan disajikan dengan sangat menarik, pengarang menyampaikan banyak pengetahuan yang sebenarnya sering terjadi di kehidupan sehari-hari, banyak terdapat pesan positif yang ada dalam setiap lembaran novel tersebut, diantaranya pesan seputar etika, pengetahuan, ilmu budaya, dan kesusilaan. novel yang didalamnya mengupas tentang etika, etika suami kepada istri, etika istri kepada suami, etika kepada sesama manusia dan etika kepada tuhan yang maha esa, etika yang berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, tata cara hidup yang baik, baik pada diri seseorang atau kepada masyarakat.
Sosiologi memandang karakter pemeran yang ada dalam novel Panah Asmara Srikandi ini sebagai karakter yang bijaksana, ramah dan penuh etika. Selaras dengan konsep ceritanya yang berlatar kerajaan, karakter yang ada dalam novel ini identik dengan sifat yang lemah lembut, penuh kasih sayang dan mencerminkan seorang raja yang kesatria serta seorang putri yang gagah berani. Raja Arjuna adalah tokoh utama pemeran laki-laki dalam novel ini. Arjuna adalah adipati Madukara yang sangat bijaksana dan tentunya sangat berani, dia sangat dibanggakan oeh saudara-saudaranya, dia juga sangat dihormati dan disegani oleh rakyatnya. Raja Arjuna adalah satu dari empat bersaudara yang paling gagah, tampan dan paling pintar meracik strategi peperangan, sehingga dia sangat dipercaya oleh keluarga untuk menjadi panglima di banyak pertempuran.
Putri Srikandi adalah sosok pemeran utama wanita dalam novel ini. Sosok yang terlihat anggun dan menawan, sehingga tidak sedikit pria yang manaruh lirikan kepadanya. Novel ini menceritakan bahwa sosok Srikandi adalah sosok perempuan yang tidak biasa, dia terlihat anggun bagaikan putri raja pada umumnya, akan tetapi dia juga sangat lihai dalam meracik dan memimpin peperangan, dia juga terkenal dengan kemampuan memanahnya. Tidak sembarangan laki-laki yang berani mendekati dan mencoba merayunya, karena meskipun terlihat anggun, dia tipikal orang yang tidak mudah berbaur, cuek dan sulit untuk dirayu dengan omong belaka.
Perspektif agama memandang raja Arjuana dengan pandangan yang tidak baik, Arjuna ternyata adalah seorang laki-laki yang sering gonta ganti pasangan, sering menikahi perempuan yang ditemui jika dipandang cocok dan menarik perhatian. Agama memandang hal itu dengan pendapat yang tidak baik, karena memang apabila ingin memadu seorang perempuan hendaknya seorang suami meminta restu dan keikhlasan dari istri sebelumnya, juga perlakuan adil harus selalu diutamakan dan tidak boleh dihilangkan. Menurut peneliti bahwa raja Arjuna tidak berlaku adil kepada segenap istrinya, dia sering mengabaikan kewajiban nafkah yanng harus dipenuhi, baik nafkah lahir maupun batin. Acap kali dia meninggalkan istrinya, yang seharusnya dalam perspektif agama islam apabila mempunyai istri lebih dari satu maka sang suami harus mengatur jadwal bermalam dengan para istrinya sesuai ketentuan yang ada dalam syariat agama. Raja Arjuna lebih memilih sering bermalam dengan istri baru atau istri yang sedang disukai oleh seleranya.
Agama juga memandang ratu Srikadi dengan pandangan yang tidak elok. Ratu Srikandi yang semula nampak anggun, banyak dikagumi kaum adam dan menarik perhatian harus ternodai oleh rasa cinta yang tidak biasa sehingga dia melakukan hal yang diluar dugaan, putri Srikandi dengan sangat yakin merubah jenis kelaminnya menjadi laki-laki. Kejadian yang semacam itu sangat dilarang dalam syariat agama islam, karena hal itu termasuk merubah kehendak dan ciptaan tuhan. Seorang laki-laki tidak boleh mengubah jenis kelaminnya menjadi jenis kelamin perempuan dan begitupun sebaliknya dengan alasan dan tujuan apapun.
Secara Psikologi, ratu Srikandi yang seketika berada dalam hutan, bertemu dengan raksasa yang hendak menyakitinya, tanpa sengaja dipertemukan dengan seorang perempuan yang cantik dan mampu memikat hati Srikandi. Perasaan sikandi setelah pertemuan itu menjadi kacau dan tidak bisa dikendalikan, dia yang secara nyata berjennis kelamin perempuan harus mendapat ujian suka kepada orang perempuan juga, ditambah lagi perasaan yang sama dirasakan oleh ratu Duriiti, sehingga timbullah rasa cinta yang amat besar diantara keduanya. Hal itu yang menyebabkan srikandi membulatkan tekad ingin merubah jenis kelaminnya, tanpa menghiraukan statusnya yang masih istri dari Arjuna.
Kesimpulannya adalah bahwa Pembelajaran Interdisipliner itu adalah konsep yang sangat dibutuhkan oleh setiap disiplin ilmu, seperti sastra contohnya, sastra interdisipliner sangat penting dalam dunia pendidikan, karena dengan adanya konsep ini sastra semakin menemukan titik perkembangannya, sastra yang semula merasa terasingkan, kini bisa kembali menemukan eksistensi dan signifikansinya dalam dunia pendidikan. Pembahasan dan manfaat sastra menjadi utuh dan meluas sehingga tidak monoton kepada satu objek atau pembahasan saja. Sastra menjadi lebih berwarna dan tidak membuat pembaca atau penulis jenuh dan merasa kecil sudut pandang.
MAHASISWA UNIVERSITAS ISLAM MALANG
Belum ada Komentar untuk "Urgensi Sastra Interdisipliner "
Posting Komentar