Berjuang Sendiri

Pada rasa yang saling terikat. Kita mungkin lupa, oh tidak kau lebih tepatnya. Kau lupa pada janji awal yang terlempar. Kau lupa pada juang yang sudah dilalui saat rasaku mulai kau dapat kan.

Memang tak ada janji terucap, tapi segala sikap, komunikasi yang inten, tatap yang hangat dan perhatian yang rutin. Menghadirkan harap dan percaya, bahwa kau sedang berusaha menanam rasa yang dalam padaku. 

Kita semakin hangat, tak henti untuk sekadar bertukar sapa. Namun lambat laun, kau mulai berubah. Mulai hambar dan bahkan hampir tak terasa. Aku masih bertahan, mengira kau sedang jenuh saja. Pada waktu lain kau akan kembali hangat lagi.

Sayangnya, semakin ku perjuangkan, kau semakin jauh. Bahkan Sapa ku tak lagi kau gubris. Aku yang berjuang dengan penuh, tak kau perduli kan dengan acuh. Seakan tak pernah tercipta hangat sebelumnya. 

Semakin ku eratkan juang padamu. Tapi kau malah semakin melepas. Tak lagi tercipta tatap, bahkan notif di hp ku tak lagi terisi namamu. 

Aku yang kebingungan, hanya bisa mengira-ngira tentang salahku apa, sehingga buatmu seperti itu. Dan kamu tak sedikitpun untuk mengucapkan apa salahku dan aku harus bagaimana agar kau kembali pulang dan menggenggam ku lagi. Namun ternyata percuma, kau tetap perduli dengan segala linang pada diri ini.


Ruqy Qurdy


 

Show comments

4 Komentar untuk "Berjuang Sendiri"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Cerita Rasa

"Yang selalu berusaha, akhirnya akan dipertemukan dengan keberhasilan, meski kerap kali mengalami kegagalan"